Kajian Indramayu » Bahasan » Aqidah » Kitab Ushul Tsalatsah, Syarah Syaikh Shalih al-Fauzan: Pentingnya Wala dan Baro’ – Ustadz Aed bin Salmin Bajri

Pemateri: Ustadz Aed bin Salmin Bajri
Materi: Kitab Ushul Tsalatsah Syarah Syaikh Shalih al-Fauzan: Pentingnya Wala dan Baro’
Tempat: Masjid As-Sunnah, Bangkir, Indramayu


Perkara ketiga yang wajib diketahui seorang muslim.

  • Al-Wala: Loyalitas
  • Al-Baro’: Berlepas Diri

Kaidah: Siapa yang taat kepada Rasul (yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak diperbolehkan baginya untuk memberikan loyalitas kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun dia orang terdekat sekalipun.

Dalilnya, QS. Al-Mujadilah ayat ke-22.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

— menit ke 7 —

Al-Wala dan Baro ini mengikuti Tauhid. Contoh orang yang lemah tauhidnya, maka dia bisa jatuh dalam memberikan wala’ kepada orang yang tidak jelas aqidah dan manhajnya.

Diantara hak-hak tauhid adalah al-wala (memberikan loyalitas) kepada wali-wali Allah dan baro’ (berlepas diri) dari musuh-musuh Allah Ta’ala.

Pengertian Al-Wala

Yang dimaksud dengan al-Wala atau memberikan loyalitas adalah kecintaan dengan hati, menolong juga membantu. Dan itu hanya kita berikan kepada wali-wali Allah. Kecintaan kita, menolong mereka.

Adapun kepada orang-orang kafir, jelas tidak diperbolehkan. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitab beliau Al-Wala wal Baro’.

Bagaimana Sikap Wala kepada Orang Kafir?

1. Menyerupai mereka dalam cara berpakaian, berbicara, dsb

Karena menyerupai mereka menunjukkan kecintaan. Sebagaimana hadits Rasulullah:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian mereka.”

Padahal Islam adalah agama yang sempurna dalam hal berpakaian, dan dalam hal berbicara. Sebagaimana hadits:

“Berkatalah baik, atau diam.”

Pada praktiknya, kaum muslimin sekarang jarang menerapkan ajaran Nabinya. Misal sapaan ketika seseorang saling bertemu, banyak yang lebih memilih menggunakan “Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam. Dan pada tahun baru mengucapkan selamat tahun baru.”

Simak pandangan Islam dalam menghadapi tahun baru masehi pada kajian “Pandangan Islam Tentang Tahun Baru Masehi” oleh Ustadz Muhammad Bahabazi Hafizhahullahu Ta’ala.

Padahal Islam sudah memberikan ucapan yang lebih baik, yaitu ucapan salam “Assalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barokaatuh”. Yaitu ucapan doa, mendoakan saudaranya agar diberi keselamatan, rahmat dan berkah bahkan saat pertama mereka bertemu.

2. Menetap di negeri orang kafir dan tidak mau hijrah ke negeri kaum muslimin dengan maksud menyelamatkan agamanya

Dalilnya QS. An-Nisa ayat 97-98:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,”

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

“kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),” (QS. An-Nisa: 97-98)

Karena menetap di negeri kafir berbahaya bagi agamanya. Karena ia akan terbiasa melihat kemaksiatan.

3. Bepergian ke negeri orang kafir dengan tujuan wisata atau refreshing (menyegarkan jiwa)

Jika tidak ada hajat (kebutuhan mendesak) adalah tidak diperbolehkan. Kecuali ada hajat yang hal itu tidak ditemukan di tempat lain (misal berobat).

Hal ini berlaku juga bagi kalangan muslim yang berkunjung ke tempat-tempat yang menjadi lokasi peribadahan agama lain, semisal candi-candi yang disana digunakan untuk menyembah selain Allah.

Niatkan setiap kali bepergian adalah untuk tadabbur, mengamati ciptaan Allah agar berpahala, dan tafakkur agar menambah imannya. Juga usahakan bersama teman, jangan sendirian.

4. Membantu kaum kafir dan menolong mereka dalam usaha melawan kaum muslimin (termasuk mengirim bantuan dan melindungi mereka)

Hal ini terjadi di masa Nabi yang dilakukan oleh orang-orang munafiq. Karena mereka mengikuti sifat orang yahudi.

Sebagaimana terjadi pada masa perang Uhud. Orang-orang kafir ingin membalas kekalahan mereka pada perang Badar, maka kaum kafir pergi ke gunung Uhud dengan membawa pasukan sebanyak 3000 orang. Dan kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah datang dengan 1000 orang.

Namun Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang munafiq, memprovokasi para Sahabat dan kaum munafiq yang lain untuk berbalik dan meninggalkan Nabi. Sehingga berbaliklah 300 orang diantaranya dan tersisa 700 orang yang menuju perang Uhud.

Apakah tujuan orang-orang munafiq ini berbalik arah? Tidak lain agar Nabi dan para Sahabatnya kalah.

5. Meminta bantuan kepada mereka, mempercayakan urusan pada mereka, memberi kekuasaan pada mereka yang di dalamnya ada banyak urusan kaum muslimin, dan menjadikan mereka kawan dekat dan teman dalam bermusyawarah

Dalilnya QS. Ali-Imran ayat 118-120:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.”

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali-Imran: 118-120)

Karena seorang kafir tidak memiliki loyalitas kepada kaum muslimin.

Ada suatu kisah yang menjadi dalil tegas akan larangan meminta bantuan kepada orang musyrik.

Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bepergian menuju Badar (saat akan perang Badar). Lalu ada seorang musyrikin yang mengikuti beliau dan berhasil menyusul beliau di daerah Hera. Lalu dia berkata,

“Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan rela berkorban untukmu”, Maka Rasul bersabda: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian laki-laki ini menjawab, “Tidak.” Maka Rasulullah berkata, “Kembalilah! Karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim)

“Kembalilah! Karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik.”

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa meminta pertolongan hanya dilakukan kepada sesama mukmin bukan kepada orang musyrik.

6. Selalu isti’mal (menggunakan kalender masehi), atau kalender yang mencantumkan upacara keagamaan mereka

Karena kalender masehi adalah kalender atas kelahiran al-Masih (Nabi Isa). Hal ini berarti berpartisipasi dalam menghidupkan syiar mereka.

Maka kita harus hafal dengan penanggalan hijriah.

Penanggalan hijriah dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika itu ada yang bertanya tentang tahun ini dan itu. Maka Umar mengumpulkan para Sahabat, memusyawarahkan kapan penanggalan hijriah ini dimulai. Maka para Sahabat sepakat bahwa tahun hijriah dimulai sejak hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah.

7. Ikut berpartisipasi dalam hari raya mereka

Misal, ikut perayaan pada tanggal 25 desember, 1 januari, ikut menyalakan petasan, hal ini bisa termasuk berpartisipasi dalam hari raya mereka. Termasuk di dalamnya mempersiapkan hari raya mereka. Bahkan yang paling berbahaya, mengucapkan selamat atas hari raya mereka karena hal ini berarti membenarkan ajaran mereka.

8. Memuji dan membanggakan keadaan mereka

Dalilnya QS. Thaha ayat 131.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Sesungguhnya peradaban Islam adalah peradaban yang mulia. Maka jangan tertipu dengan peradaban kaum kafir. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang rusak moralnya.

Mungkin teknologi mereka maju, akan tetapi adab dan akhlak mereka buruk. Adapun yang ditampilkan di layar kaca atau lainnya hanyalah bentuk yang dikemas menjadi baik. Bukan sesuatu yang nyata ada dalam kehidupan keseharian mereka.

Banyak terjadi bunuh diri banyak kejahatan yang terjadi pada kaum kafir. Bandingan dengan negeri kaum muslimin yang merasa tenang dan nyaman dan yakin kepada Allah meskipun hartanya sederhana.

Adapun peradaban Islam adalah peradaban yang mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah. Misalnya ketika masa Khalifah Umar bin Khattab.

9. Memberi nama dengan nama orang-orang kafir

Contoh memberi nama anaknya dengan nama pemain bola yang kafir. Padahal Nabi bersabda:

“Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman.”

Cukuplah kita menamakan dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Namun perlu diingat, pemberian nama ini harus mengetahui arti dari nama tersebut.

10. Berdoa memohon ampunan bagi mereka dan bersikap kasih sayang kepada mereka

Dalilnya QS. At-Taubah ayat 113:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Semoga Allah menjadikan loyalitas kita kepada orang-orang mukmin, dan menjauhkan loyalitas kepada orang-orang kafir.

Add comment

Your email address will not be published.