Kajian Indramayu » Lokasi » Masjid An-Nur BTN Lama » Kitab Tazkiyatun Nafs: Bab Racun-racun Hati – Ustadz Taryaman

Pemateri: Ustadz Abu Ayyub Taryaman
Materi: Kitab Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha kama Yuqorrihu Ulama’u Salaf / Pembersihan Jiwa dan Penyuciannya dan Pendidikannya Sebagaimana yang Ditetapkan oleh Ulama Salaf (Bab: Racun-racun Hati yang Empat)
Lokasi: Masjid An-Nur, BTN lama, Indramayu


Semua maksiat adalah racun bagi hati. Dan sebab hancurnya hati adalah maksiat. Maka agar hati sehat, jaga diri dari maksiat. Ibnul Mubarak mengatakan: “Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati.”

Racun-racun Hati

  1. Berlebih-lebihan dalam berbicara.
  2. Berlebih-lebihan dalam melihat.
  3. Berlebih-lebihan dalam makanan
  4. Berlebih-lebihan dalam bergaul.

Keempatnya memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan hati seseorang.

Berlebih-lebihan dalam Berbicara

Hadits dari Abu Hurairah: “Yang paling banyak memasukkan manusia adalah dua lubang. Mulut dan kemaluan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahih)

“Barangsiapa yang menjamin untukku diantara jenggot dan kumisnya (mulut) dan diantara dua pahanya (kemaluan) maka aku akan jamin baginya Syurga.” (HR. Bukhari)

Hadits dari Abu Hurairah: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya berkata baik atau diam.”

Pilihannya hanya dua, tidak ada pilihan ketiga!

Muslim itu adalah yang muslim lain selamat dari lisan dan tangannya.

Ilmu sebelum berkata dan berbuat. Pikirkan dulu, pertimbangkan dulu, muhasabah dulu sebelum menyampaikan sesuatu. Jangan sampai muncul penyesalan di kemudian hari.

Ucapan manusia ada dua:

  1. Menjadi sebuah kebaikan, maka baginya diperintahkan untuk mengucapkan.
  2. Tidak baik, maka diperintahkan untuk diam.

Sebagaimana anak belajar berbicara, maka dia juga harus belajar diam. Karena tidak semua orang bisa diam. Akan muncul saat untuk bicara, dan ada saat untuk diam. Kalau kebaikan, maka berbicara. Kalau keburukan, maka diam.

Tiga jenis ucapan yang bermanfaat

Semua perkataan anak Adam akan menjadi bahaya, menjadi mudharat baginya, kecuali tiga perkara berikut:

  1. Amar Ma’ruf, yaitu memerintahkan kepada kebaikan.
  2. Nahi Munkar, yaitu mencegah dari kemunkaran.
  3. Dzikir kepada Allah.

“Bagusnya Islam seseorang itu adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

Maka obrolan yang tidak bermanfaat seharusnya ditinggalkan. Agar Islam kita menjadi Islam yang baik.

— menit 20:38 —

Berlebih-lebihan dalam Melihat

Attiba’ul Qulub (Dokter-dokter hati) menyebutkan bahwa

“Terdapat saluran dan jalan antara mata dan hati. Apabila rusak mata (yaitu melihat hal-hal yang rusak), maka rusaklah hati. Sehingga hati seperti tempat sampah. Dan tempat sampah itu adalah tempat yang najis. Jika kemudian hati menjadi seperti tong sampah, maka tidak seyogyanya dia akan mengenal Allah dengan hati. Maka tidak selayaknya dia mendapat Ma’rifatullah. Tidak layak mendapat kebahagiaan berupa dekat dengan Allah. Sehingga dia akan tenang kalau berlawanan dengan hal itu (yaitu lawan kebaikan, berupa keburukan).”

Jika kemudian hati menjadi seperti tong sampah, maka tidak seyogyanya dia akan mengenal Allah dengan hati. Maka tidak selayaknya dia mendapat Ma’rifatullah.

Maka berusahalah agar yang masuk ke mata adalah sesuatu yang baik. Jika kita memiliki wadah air, maka masukkan air yang jernih. Jangan air got / comberan.

Jika kita ingin ghadul bashar, maka pahami bahwa pandangan Allah lebih cepat kepada kita, daripada pandangan kita kepada yang haram.

Contoh, ketika seorang siswa mau mencontek dan menyiapkan contekan, ternyata dia mendapati pandangan tajam dari pengawas ujian. Maka dia mengurungkan niatnya untuk mencontek. Ini adalah analogi sederhana.

Kalau membiarkan terlepasnya pandangan kepada hal yang diharamkan adalah perbuatan maksiat kepada Allah. Karena Allah telah memerintahkan,

“Katakan kepada orang-orang yang beriman, tundukkanlah pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik.”

Ustadz membawakan beberapa kisah yang menunjukkan karunia Allah berupa ganti yang lebih baik karena meninggalkan sesuatu yang haram.

Add comment

Your email address will not be published.